Powered by Blogger.
RSS

Etika Religius dalam Komunikasi


Etika Religius dalam Komunikasi

Etika Religius dalam Komunikasi

DR. Widodo Muktiyo[1]




Abstrak

Artikel ini membahas berbagai persoalan etika secara umum dan upaya menarik pemahaman etika dalam bingkai Islam. Etika sebagai bagian dari filsafat moral yang berada dalam realitas kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai religius. Agama itu sendiri (Islam) merupakan petunjuk bagi manusia (huda li nas) untuk mengatur dirinya beserta alam seisinya agar terjadi interaksi yang saling menguntungkan dalam kerangka beribadah kepada sang Khalik, maka etika dalam bingkai religius ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh dengan perspektif dan orientasi yang lebih luas (dunia dan akhirat).

Peradaban modern yang dipenuhi dengan berbagai lompatan teknologi informasi dan komunikasi tidak serta merta menjadikan berbagai bentuk komunikasi mengalami perubahan nilai yang seiring atau selalu bersandarkan pada orientasi etika yang berdimensi Ilahiah. Yang kerapkali terjadi justru bahwa perkembangan peradaban manusia yang makin maju diikuti dengan kemerosotan moral dan perilaku komunikasi yang serba manipulatif sehingga pegangan etika sulit diterapkan.

Pemahaman etika religius seseorang dengan ditopang keyakinan dan keimanan kepada agamanya diharapkan dapat menjadi solusi yang mendesak dilakukan agar komunikasi sebagai sarana penting dalam kehidupan senantiasa berjalan sesuai dengan koridor menuju ke arah kaffah yang senantiasa diridhoi Alloh SWT.


Keyword: etika, etika religius, komunikasi


Etika ditinjau dari etimologi atau asal kata berasal dari bahasa Latin (ethicus) dan bahasa Yunani (ethicos) yang berarti kebiasaan. Etika dikatakan baik apabila sesuai dengan kebiasaan masyarakatnya. Namun dalam perkembangannya etika dipandang sebagai ilmu yang membicarakan perbuatan atau tingkah laku manusia. Pada situasi tertentu ia dapat dinilai baik dan juga dapat dinilai tidak baik. Namun demikian etika berkembang menjadi ilmu normatif yang berisi ketentuan-ketentuan (norma-norma) dan nilai-nilai yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari (Wursanto, 1987).

Sementara itu, K. Bertens dalam bukunya Etika (1994), mengungkapkan bahwa etika merupakan niat, apakah perbuatan itu boleh dilakukan atau tidak sesuai pertimbangan niat baik atau sebagai akibatnya. Etika bersifat absolut, artinya tidak dapat ditawar-tawar lagi, kalau perbuatan baik mendapat pujian dan yang salah harus mendapat sanksi. Etika juga berdimensi nurani (bathiniah), bagaimana harus bersikap etis dan baik yang sesungguhnya timbul dari kesadaran dirinya (Bertens, 1994).

Pada tataran yang lebih tinggi, etika dipandang sebagai cabang filsafat moral atau filsafat susila (Aristoteles, 384 – 322 SM) sehingga ia melakukan penyelidikan filosofis mengenai kewajiban-kewajiban manusia, baik dalam hal yang baik ataupun yang buruk. Lebih jauh lagi etika bukan bicara manusianya tetapi membahas bagaimana manusia seharusnya bertingkah laku secara benar. Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Franz von Magnis (nama asli sebelum berubah menjadi Franz Magnis-Suseno saat menjadi warga negara Indonesia) dalam bukunya Etika Umum bahwa etika adalah filsafat moral, filsafat praxis tentang manusia (von Magnis, 1975).

Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Rafik Issa Beekun, bahwa etika dapat didefinisikan sebagai seperangkat prinsip moral yang membedakan yang baik dari yang buruk. Etika adalah bidang ilmu yang bersifat normatif karena ia berperan menentukan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan oleh seorang individu. Demikian halnya diungkapkan Hamzah Ya’qub dalam Etika Islam (1978), dimana ia kembali menegaskan bahwa etika merupakan salah satu cabang filsafat, maka pengertian etika menurut filsafat adalah ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran (Ya’qub, 1978: 12; Beekun, 2004: 3). Kemudian istilah “etika” itu sendiri sering digunakan dalam tiga perbedaan yang saling terkait, yang berarti; merupakan pola umum atau jalan hidup, seperangkat aturan atau “kode moral” dan penyelidikan tentang jalan hidup dan aturan-aturan perilaku. Atau merupakan penyelidikan filosofis tentang hakekat dan dasar-dasar moral (Abelson, 1972: 82; Taylor, 1975: 1).

Sementara itu, usaha manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup dengan berbagai tanggung jawabnya, mendorong dirinya untuk menggunakan kemampuan akalnya. Perbuatan manusia itu tidak pernah terlepas dari sifat baik, buruk, harus dilakukan, harus ditinggalkan, atau boleh dilakukan dan boleh ditinggalkan, kesemuanya itu erat kaitannya dengan masalah etika. Maka oleh karena itu, tidak mengherankan jika hampir semua ahli pikir (filosof) pernah menulis masalah etika (Suseno, 1997: 5).


Kaitan dengan Kelahiran Islam

Islam yang lahir pada abad ketujuh di Arabia, tak diragukan lagi merupakan salah satu dari reformasi agama yang paling radikal yang pernah muncul di Timur. Qur’an sebagai tulisan autentik yang paling awal dari peristiwa besar ini, menjelaskan istilah-istilah konkret dengan gamblang bagaimana dalam periode penting tersebut terjadi konflik yang banyak menumpahkan darah antara norma-norma suku yang saat itu dihormati. Pandangan baru tersebut berjalan terhuyung-huyung dan setelah usaha pertahanan yang sia-sia dan melelahkan, akhirnya menghasilkan hegemoni kekuatan yang baru. Arabia dari masa penyembahan berhala pra-Islam sampai permulaan munculnya Islam, adalah masa yang sangat penting bagi siapa saja yang berkepentingan dengan masalah-masalah pemikiran etik, karena masa itu memberikan materi khusus yang bagus sekali untuk mempelajari lahir dan tumbuhnya peraturan moral (Syukur, 2004: 183-184).

Tentu kita masih ingat bahwa zaman itu dikenal dengan zaman jahiliyah yakni periode pagan sebelum datangnya Islam, adat istiadat dan pandangan aneh yang berkaitan dengan kepercayaan musyrik merajalela di kalangan orang Arab nomadik. Adat istiadat dan kepercayaan tersebut ditolak oleh Islam karena bertentangan dengan wahyu. Adat istiadat yang mampu bertahan hidup di tengah-tengah munculnya Islam mengalami perubahan bentuk dan substansi sehingga berhasil mewujudkan gagasan-gagasan moral yang digabungkan dengan peraturan etika yang baru (Izutsu, 1993: 19).

Sebelum berbincang lebih lanjut, sebagaimana diketahui etika sebagai filasafat moral nampaknya tidak secara gampang ditarik dalam wilayah agama (religius). Universalitas tatanan nilai ketika dihadapkan pada doktrin agama kerap kali menjadi persoalan tersendiri. Dua hal yang relatif mengalami perbedaan tersebut tatkala nilai-nilai kebaikan itu senantiasa diorientasikan pada nilai-nilai tentang kesempurnaan hidup yang berdimensi dunia dan akhirat.

Kemudian dalam konteks alam religius inilah yang menjadi perhatian tersendiri. Ia berada dalam wilayah ’tetap’ dari kitab sucinya. Sehingga kita akan diajak memaknai berbagai tatanan nilai yang jauh lebih dalam dan sempurna sehingga nalar saja tidak akan cukup dalam menangkap fenomena etis dalam khasanah agama. Di Islam dalam mengambil nilai-nilai religius dikenal adanya pendekatan atau cara pandang bayani, burhani ataupun irfani. Bayani lebih mendasarkan diri pada nash-nash yang saling menjelaskan. Teks-teks resmi Al Qur’an dan Ash Sunnah menjadi landasan dalam melakukan pemahaman terhadap sebuah nilai ataupun aturan yang hendak dikonstruksi dalam alam nyata. Sementara itu cara pandang burhani lebih menekankan pada adanya bukti-bukti yang bisa diformulasikan dalam sebuah dalil ilmiah. Nilai-nilai Islam secara empiris dapat diuji dan dibuktikan sehingga lebih mudah dipahami dalam kehidupan yang nyata. Sedangkan cara pandang irfani lebih menekankan adanya unsur nurani, dimana sebuah nilai Islam dapat dimasukkan dalam qalbu dan dicerna secara emosi dan mengedepankan pertimbangan perasaan. Sehingga baik dan buruk dapat direfleksikan dalam tataran kehidupan yang lebih humanis.

Ketiga sumber penafsiran terhadap sebuah nilai religius (Islam) menjadi lahan yang senantiasa lahir dan terus berkembang dalam pergulatan alam sadar manusia. Meskipun secara jelas nilai Islam sudah diyakini sebagai ”kesempurnaan pedoman dalam kehidupan bagi pemeluknya namun dalam mengimplementasikan pada ranah empiris mengalami dinamika yang tinggi.


Etika Religius dalam Komunikasi

Berbicara mengenai etika dalam islam tidak dapat lepas dari ilmu akhlak sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan agama Islam. Oleh karena itu, etika dalam Islam (bisa dikatakan) identik dengan ilmu akhlak, yakni ilmu tentang keutamaan-keutamaan dan bagaimana cara mendapatkannya agar manusia berhias dengannya dan ilmu tentang hal-hal yang hina dan bagaimana cara menjauhinya agar manusia terbebas daripadanya (Fakhry, 1996; Syukur, 2004: 3). Salah satu tokoh kunci dalam etika religius adalah Abu al-Hasan al-Mawardi dengan karya besarnya, dalam bidang etika Adab al-Dunya wa al-Din. Ia hidup di abad klasik (974-1058) satu zaman dengan al-Ragib al-Isfahani. Buku al-Mawardi tersebut paling tidak mengandung tiga isu pokok: moralitas duniawi, moralitas ukhrawi dan moralitas individual. Al-Mawardi dalam karyanya berusaha menganalisis ketiga isu pokok yang berlandskan Qur’an dan hadis dengan memberikan keistimewaan akal untuk mengikat ketiga isu pokok tersebut. Misalnya mengenai permasalahan “Truth and Falsehood”, al-Mawardi berusaha mengekspresikan idenya bahwa akal selalu menuntut kejujuran. Menjelang abad klasik al-Mawardi telah merintis untuk mendemonstrasikan sifat yang sebenarnya tentang pentingnya akal. Dimana ia telah memperbincangkan tentang kesadaran akal praktis (reasoned on practical considerations) (Donaldson, 1953: 85; Syukur, 2004: 8-9). Etika religius sendiri masuk dalam salah satu ranah dari tipologi etika Islam. Selain etika religius, yakni ada etika teologis, moralitas skriptural dan etika filosofis (Fakhry, 1996). Perbedaan mencolok yang dimiliki oleh etika religius terutama berakar dalam Qur’an dan Sunnah, dimana di satu sisi cenderung melepaskan kepelikan “dialetika” atau “metodologi” dan memusatkan pada usaha untuk mengeluarkan spirit moralitas Islam dengan cara yang lebih langsung (Syukur, 2004: 196).

Spirit yang diusung oleh etika religius ini menjadi sangat penting bagi ranah komunikasi. Sebagaimana kita ketahui, komunikasi merupakan kegiatan yang sangat mendasar dan vital sehingga tidak dapat dipisahkan bagi kehidupan manusia. Sejak bangun tidur sampai tidur lagi secara kodrati senantiasa terlibat dalam komunikasi. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa komunikasi berhubungan dengan seluruh kehidupan manusia, dan setiap studi terhadap aktivitas manusia harus menyentuhnya (Wright, 1989; Effendy, 2000: 3, Chalil, 2005: v; Littlejohn dan Foss, 2005: 2).

Komunikasi mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dimanapun manusia berada, komunikasi senantiasa dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya sebagai makhluk sosial yang selalu hidup berkelompok dan berhubungan dengan manusia lainnya. Setiap pesan yang berwujud lambang-lambang diformulasikan manusia agar maksud dan tujuan yang ingin dicapai dan disampaikan dapat dimengerti oleh sesamanya. Komunikasi menumbuhkan persahabatan, saling pengertian sekaligus bisa menyebarkan perpecahan dan menghambat informasi (Wright, 1989).

Apalagi komunikasi memegang peranan penting dalam ranah kehidupan sehari-hari, dimana fungsi yang melekat padanya begitu penting yakni menginformasikan (to inform), mendidik (to educate), menghibur (to entertain) dan mempengaruhi (to influence). Apabila ditilik dari ranah Islam, jika kita mau melongok sejarah Islam, ternyata 14 abad silam, baginda Rasullulah SAW sudah memberikan contoh yang sangat nyata tentang pentingnya komunikasi dalam mendakwahkan Islam. Rasullulah pernah bersabda, “Berbicaralah kepada mereka sesuai kadar akalnya” (Effendy, 1993: 55; Chalil, 2005: 5). Sehingga dapat dipastikan jika komunikasi tidak didasarkan atas prinsip-prinsip luhur etika religius tentu akan menimbukan suatu implikasi yang buruk akhirnya.

Sebagaimana diterangkan dalam Qur’an bahwa manusia menurut kejadian asalnya (fitrah-nya) adalah makhluk mulia, tetapi karena berbagai hal yang muncul akibat kelemahannya sendiri, maka manusia akan menjadi makhluk yang paling hina. Bersama itu pula ia kehilangan fitrah dan kebahagiaannya. Manusia akan selamat itu, jika ia mempunyai “semangat ketuhanan” (rabbaniyyah atau ribbiyyah) dan berbuat baik kepada sesamanya (Madjid, 1992: 104).

Oleh karena itu, komunikasi harus ditempatkan pada koridor yang benar apabila manusia tidak ingin kehilangan fitrahnya. Nurcholish Madjid pernah menegaskan bahwa dalam kenyataan historis, perjuangan memperoleh dan mempertahankan harkat dan martabat kemanusiaan merupakan ciri dominan deretan pengalaman hidup manusia sebagai makhluk sosial. Sebab dalam kenyataan, manusia lebih banyak mengalami kehilangan fitrah dan kebahagiaan daripada sebaliknya, karena mereka meninggalkan sesuatu yang sangat urgen yakni unsur emansipasi. Melalui perilaku yang emansipatoris, berarti menghargai keberadaan orang lain, karena orang lain memiliki kelebihan dari dirinya sendiri (Madjid, 1992: 93).

Hal ini senada dengan konsep etika filosofis yang telah dikembangkan sarjana Barat mazhab Frankfurt Jurgen Habermas dengan “Etika Komunikatif”, yang menekankan unsur emansipatoris dengan pendekatan strukturalis melalui cara yang bersifat dialogis. Habermas, dengan pendekatan itu, ingin mempertahankan karakter kognitif norma-norma moral dengan pijakan yang dibangun oleh Kant, dengan demikian ia disebut neo-Kantian (Clement, 1989: 159).

Pada sisi lain, pendekatan itu berarti Habermas ingin mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan kehidupan modern tidak sekedar menilai baik dan dikehendaki lepas dari pertanggungjawaban normatif, akan tetapi diperlukan struktur-struktur rasional kehidupan bermasyarakat dimana perlu ditemukan syarat-syarat transendental sebagaimana dikehendaki Kant. Pemahaman seperti inilah kiranya dapat menepis anggapan bagi kebanyakan masyarakat Muslim, bahwa wacana transendental bukan saja hal-hal yang berhubungan dengan ketuhanan belaka, akan tetapi di dalam berbagai dinamika yang terjadi di dalam struktur masyarakat sarat dengan nuansa transendentalis.

Hal ini sejalan dengan salah satu prinsip etika komunikasi dalam piagam Madinah yakni prinsip ummah. Dimana merujuk pada pola komunikasi yang saling menghargai dan menghormati (Mahfud, 2008: 10). Ditambah domain komunikasi Islam yakni dakwah, tabligh, amar ma’ruf nahi munkar, akhlak/adab Tujuannya adalah perubahan sikap, pendapat, perilaku sosial guna terbentuknya khairu ummah (Taufik, 2007).

Dalam realitasnya memang perspektif sosial ini erat kaitannya dengan agama. Keterkaitan yang dinamis antara agama dan sosial, menurut Meredith B. McGuire, seorang sosiolog, paling tidak ada dua alasan. Pertama, agama sangat penting bagi manusia. Praktek-praktek keagamaan merupakan bagian penting bagi kehidupan individual. Nilai-nilai keagamaan ternyata mempengaruhi tindakan manusia, dan makna keagamaan dapat membantu dalam menginterpretasikan berbagai pengalaman mereka. Kedua, agama merupakan objek paling penting dalam kajian sosiologis karena pengaruhnya terhadap perkembangan masyarakat, di samping adanya unsur yang kuat pengaruh dinamika masyarakat tersebut terhadap agama (McGuire, 2002: 1). Apa yang diungkapkan McGuire ini menguatkan bahwa sejatinya, agama tidak boleh dipisahkan dari konteks sosial yang melingkupinya atau dijauhkan dari perkembangan ilmu pengetahuan.

Dalam perkembangan lanjut, nilai-nilai etika religius ini dekat dengan komunikasi profetik karena nilai-nilai di dalam Qur’an dan Sunnah diderivasi melalui semangat kenabian sehingga dapat dikatakan memiliki irisan yang sama. Selain itu, karena komunikasi profetik bukan hanya persoalan dakwah, melainkan persoalan kemanusiaan secara luas. Dimana didalamnya terkandung komunikasi yang berorientasi pada humanisasi, liberasi dan transendensi. Tujuan humanisasi adalah memanusiakan manusia setelah mengalami dehumanisasi. Manusia dilihat secara parsial, sehingga hakikat kemanusiaan itu sendiri hilang. Sementara tujuan liberasi adalah membebaskan manusia dari struktur sosial yang tidak adil dan tidak memihak rakyat lemah. Sedangkan transendental bertujuan membersihkan diri dengan mengingatkan kembali dimensi transendental yang telah menjadi bagian dari fitrah kemanusiaan. Upaya humanisasi dan liberasi harus dilakukan sebagai manifestasi keimanan kepada Tuhan karena Tuhan memerintahkan manusia menata kehidupan sosial secara adil (Kuntowijoyo, 1991).

Sebagaimana diungkapkan Haryatmoko (2007: 44), bahwa etika komunikasi memiliki tiga dimensi yang terkait satu dengan yang lain, yaitu tujuan, sarana dan aksi komunikasi itu sendiri maka dapat dikatakan bahwa komunikasi profetik yang merupakan derivasi dari etika religius sudah memuat berbagai elemen tadi.

Dimana komunikasi profetik menginginkan praktik prinsip yang membebaskan manusia dari segala bentuk tekanan negara, pasar (iklan) dan apa pun yang dapat merendahkan martabat kemanusiaan, apalagi yang jauh dari nilai transenden. Hal ini bukan berarti komunikasi profetik anti dan berada dalam posisi bertentangan dengan negara, pasar, dan berbagai produk industri lainnya. Iklan, negara, dan pasar dapat saja menyajikan pesan melalui media dengan cara menampilkan pesan yang lebih memanusiakan manusia, memberikan pembebasan psikologis dan bila perlu memberikan pesan dengan muatan transenden. Dengan demikian, komunikasi profetik bukan menjadi ancaman bagi pelaku media, pasar, atau pun negara (Syahputra, 2007: 154).

Selama ini ada kecenderungan bahwa media telah berfungsi sebagai penyebar kabar bohong atau tepatnya distorsi makna budaya oleh kepentingan politik kepada publik. Karena itu, misi komunikasi profetik adalah membebaskan manusia sejauh mungkin dari praktik komunikasi yang menimbulkan syak wasangka, kebohongan publik, penyebaran fitnah, kebohongan dan dusta. Komunikasi profetik tidak menoleransi segala perilaku yang dinilai mempraktikkan kebohongan (Syahputra, 2007: 153). Karena memang tidak jarang harkat dan martabat kemanusiaan yang seharusnya menjadi kekuatan otonom yang mengisi public sphere, dirampas oleh pasar atau negara melalui kerja media.


Renungan Bagi umat Islam, etika yang dijadikan dasar adalah nilai-nilai moral yang terdapat dalam kitab suci Qur’an dan Sunnah Rasul. Sebenarnya kalau kita mau jujur, Qur’an sebagai wahyu Allah telah memberikan prinsip-prinsip dasar yang melandasi etika komunikasi, termasuk komunikasi massa. Dalam konteks komunikasi, maka etika yang berlaku harus sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Berkomunikasi yang baik menurut norma agama, sudah tentu harus sesuai pula dengan norma agama yang dianut oleh masing-masing individu.

Pada dasarnya semua agama memiliki tujuan yang sama bila berbicara tentang etika. Karena tentu saja tidak ada satu agama pun yang mentolerir, baik itu perlakuan kasar, kata-kata kotor, tindakan yang asusila atau perbuatan apa saja yang membuat orang lain tidak nyaman. Pendek kata agama mengajarkan bagaimana manusia itu dapat meraih kehidupan yang tenang, tentram, dan damai dengan sesamanya. Sehingga jika dilihat dalam konteks komunikasi massa, maka berbohong merupakan sifat tercela, karena sangat berbahaya. Kebohongan dalam komunikasi massa akan menyesatkan masyarakat disebabkan telah menyerap informasi yang salah. Tentu komunikasi seperti ini menyalahi etika komunikasi dan ajaran Islam (Widowati, 2008).

Kemudian dalam berbagai kesempatan kita entah disadari atau tidak kerap mengagungkan komunikasi ala Barat dan malas untuk menggali dari Islam dimana sebenarnya Islam merupakan sumber rujukan yang komprehensif dalam berbagai aspek kehidupan termasuk komunikasi.

Ini menjadi penting karena harus kita ketahui bahwa komunikasi ala Barat dibangun dengan kerangka empirikal, mengabaikan aspek normatif dan historikal yang menghasilkan premature universalism dan naive empirism. Sementara komunikasi Islam dibangun melalui Islamic world-view, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan berdasarkan kaedah komunikasi dalam Qur’an dan Hadist. Dengan demikian akan lahir Islamic Triangular Relationship, yakni hubungan segitiga antara “Allah, manusia dan masyarakat”. Tujuannya adalah untuk mewujudkan persamaan makna secara universal, menuju perubahan masyarakat muslim, demi kebahagiaan hidup dunia dan akhirat (Rafiq, 2003: 149).

Kedepan tantangan komunikasi Islam para era ini adalah mewujudkan komunikasi yang berbasis moral dan etika untuk kesejahteraan umat manusia, dan bukan hanya menjadi sebagai komoditi kekuasaan an sich. Kita ambil contoh, sebagaimana diungkapkan oleh Ari Hidayat, dimana ia mengatakan bahwa salah satu persoalan besar umat Islam di era informasi ini adalah kurang memadainya media massa untuk menegakkan dan memperjuangkan nilai-nilai Islam. Suatu media massa yang membela kepentingan agama dan kaum Muslim kurang dimiliki oleh umat Islam. Akibatnya, tidak hanya aspirasi umat yang kurang tersalurkan, tapi umat Islam pun lebih sering menjadi “permainan” konsumen media lain. Walhasil, akses dan kekuatan informasi dunia Islam dalam pembentukan opini publik dunia sangat kecil kontribusinya (Hidayat, 2010).

Sebagai penutup, Awadh Bin Muhammad Al-Qarni pernah mengungkapkan bahwa orang yang berakal—dengan akal yang dianugerahkan Allah kepadanya dan dengan fitrah dititipkan kepadanya—ia mengetahui bahwa alam raya yang dibangun dengan sangat teratur dan manusia yang diciptakan dengan bentuk paling sempurna ini pasti dibaliknya terkandung tujuan yang agung dan tinggi. Dimana tujuan besar, agung dan paling tinggi yang harus dicari oleh manusia dalam hidupnya adalah berusaha mencari ridha Allah, Tuhan yang menguasai alam semesta, dengan cara-cara yang ditentukan oleh-Nya (Al-Qarni, 2004: 26-27). Demikian pula halnya tatkala kita berkomunikasi. Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa etika religius dalam komunikasi, dengan demikian bertugas merefleksikan bagaimana manusia harus hidup agar ia berhasil sebagai manusia benar-benar mampu mengemban tugas khalifah fi al-ardi.



DAFTAR PUSTAKA



Abelson, Rizal. 1972. ”History of Ethics”, dalam Paul Edwards, The Encyclopedia of

Philosophy. New York: The Macmillan Company & The Free Press.

Al-Qarni, Awadh Bin Muhammad. 2004. Kembangkan Potensi Diri Anda

Sepenuhnya. Yogyakarta: Mitra Pustaka.

Beekun, Rafik Issa. 2004. Etika Bisnis Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bertens, K. 1994. Etika. Jakarta: Gramedia.

Chalil, Komarudin. 15 Kiat Menjadi Pembicara yang Menggugah dan Mengubah. Bandung: MQS Publishing.
Clement, Gace. 1989. “Is The Moral Point of View Monological or Dialogical? The Kantian Backgroud of Habermas”, dalam David Pallauer (ed), Philosophy Today. Chicago: De Paul University Press.
Donaldson, Dwight M. 1953. Studies in Muslim Ethics. London: S.P.C.K.

Effendy, Onong Uchjana. 1993. Ilmu, Teori & Filsafat Komunikasi. Bandung. Citra

Aditya Bakti.

——————————. 2000. Dinamika Komunikasi. Cet. ke-4. Bandung: Remaja

Rosdakarya.

Fakhry, Majid. 1996. Etika dalam Islam. Terj. Zakiyuddin Baidhawy.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Haryatmoko. 2007. Etika Komunikasi. Yogyakarta: Kanisius.

Hidayat, Ari. “Jurnalisme Islami”, Republika, 19 Juli 2010.

Izutsu, Toshihiko. 1993. Konsep-konsep Etika Religius Dalam Qur’an. Terj. Agus

Fahri Husein dkk. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Kuntowijoyo. 1991. Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Mizan.

Madjid, Nurcholish. 1992. Islam Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis

Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemodernan. Jakarta: Paramadina.

Mahfud, Mokhamad. 2008. ”Komunikasi Lintas Agama (Perspektif Filsafat Ilmu

Etika Profetik)”. Jurnal Komunikasi Profetik. Vol.1/No.1/April/2008.

Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN

Sunan Kalijaga Yogyakarta.

McGuire, Meredith B. 2002. Religion: The Social Context. Fifth edition. California:

Wadsworth Publishing Company.

Rafiq, Mohd. 2003. ”Tantangan dan Peluang Komunikasi Islam Pada Era Globalisasi

Informasi”. Analytica Islamica, Vol. 5, No. 2. hal. 149-168. Program Studi

Komunikasi Islam. IAIN Sumatera Utara.

Suseno, Franz Magnis. 1997. Tiga Belas Tokoh Etika Sejak Zaman Yunani Sampai

Abad ke-13. Yogyakarta: Kanisius.

Syahputra, Iswandi. 2007. Komunikasi Profetik: Konsep dan Pendekatan. Bandung:

Simbiosa Rekatama Media.

Syukur, Suparman. 2004. Etika Religius. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Taufik, M. Tata. 2007. ”Konsep Islam Tentang Komunikasi: Kritik Terhadap Teori

Komunikasi Barat”. Disertasi. UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta.

Taylor, Paul W. 1975. Principles of Ethics: An Introduction. California: Wads Worth

Publishing Company.

Ya’qub, Hamzah. 1978. Etika Islam. Jakarta: Publicita.

von Magnis, Franz. 1975. Etika Umum. Yogyakarta: Kanisius.

Widowati, Dewi. 2008. ”Etika Komunikasi Massa” dalam

”http://dossuwanda.wordpress.com/2008/03/29/etika-komunikasi-massa/”diakses 16 Juni 2010.

Wursanto. 1987. Etika Komunikasi Kantor. Jakarta: Kanisius.

[1] Penulis adalah Pengajar Magister Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS SOLO)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KOMUNIKASI PROFETIK


Enlightening of Communication

KOMUNIKASI PROFETIK, Sebuah Pengantar





Secara sederhana, komunikasi dapat dipahami dalam berbagai pendekatan atau perspektif. Keragaman pendekatan dan perspektif terhadap Komunikasi tersebut muncul karena :

Beragamnya orang memahami pengertian komunikasi
Kontribusi yang diberikan “ilmu” lain untuk mengembangkan komunikasi sebagai “ilmu”.


Penjelasan, Beragamnya orang memahami pengertian komunikasi

Banyak orang memahami komunikasi (dalam pengertian praksis yang dirasakan sehari-hari) dengan pengertian “berbicara, berdialog, berdiskusi, berpendapat, berinteraksi, bersosialiasi”, atau apapun yang menyiratkan pertukaran (penyampaian) pesan dan informasi dari satu pihak kepada pihak lain.



Dalam pengertian yang sangat lazim ini, komunikasi masih dimaknai sebagai tindak prilaku manusia dalam bentuk “tutur kata” dalam menyampaikan pesan atau informasi. “Tutur kata” merupakan medium (sarana) untuk menyampaikan informasi (pesan). Sedikit lebih maju, tutur kata sebagai sarana penyampain pesan tersebut digantikan dengan kentungan, bel, sirine atau apapun yang digunakan manusia untuk menyebarluaskan informasi. Kentunga, bel, sirene atau apapun bentuk sarana penyampaian informasi tadi merupakan usaha manusia untuk beradaptasi dengan perkembangan dan kebutuhannya terhadap informasi.



Dalam konteks ini, dapat dikatakan bahwa usia komunikasi sebagai praktek penyebaran informasi sama tuanya dengan usia manusia. Bahkan sebelum manusia tercipta, komunikasi sudah terlebih dahulu ada. Hal tersebut dapat kita temui dalam kisah komunikasi antara Allah Swt dengan Iblis ketika akan menciptakan Nabi Adam sebagai manusia pertama.



Inilah yang kemudian menimbulkan ambiguitas dan paradok, jika komunikasi sudah ada sejak manusia tercipta, mengapa teknologi komunikasi (atau, studi tentang komunikasi) baru muncul belangan ini? Pertanyaan tersebut muncul dari pijakan dasar yang berbeda dalam memahami pengertian komunikasi.



Jika pertanyaan terbut diletakkan dalam konteks pengertian komunikasi yang lazim seperti tersebut di atas, tidak terbantahkan klausul pertama bahwa komunikasi merupakan prilaku manusia atau praktek sosial yang sudah lama berlangsung. Namun, jika pertanyaan tersebut diletakkan dalam konteks “keilmuan” yang didalamnya membahas tentang teknologi komunikasi, maka komunikasi sebagai ilmu baru muncul belakangan ini.



Hingga kini, banyak orang awam masih menempatkan komunikasi dalan pengertian yang lazim tersebut, bukan dalam pengertian komunikasi sebagai “ilmu”. Dalam pengertian yang lazim tersebut, komunikasi akan menghantarkan kita pada studi tentang budaya dan antropologi. Karena, bahasa dan tutur kata manusia yang digunakan sebagai sarana komunikasi masuk dalam kajian budaya dan antropologi.



Penjelasan, Kontribusi yang diberikan “ilmu” lain untuk mengembangkan komunikasi sebagai “ilmu”.

Dari pengertian komunikasi sebagai fakta sosial-empirik yang dipahami secara lazim seperti yang dijelaskan tersebut kemudian Shanon dan Weaver membuat teorisisasi komunikasi yang secera simpel diartikan sebagai :

Penyampain pesan
dari komunikator
kepada komunikan
melalui media
sehingga menimbulkan feedback




Dengan demikian, secara sederhana suatu praktek komunikasi memuat unsur adanya pesan, komunikator (orang yang memberi pesan), Komunikan (orang yang menerima pesan), Media (sarana yang digunakan dalam menyampaikan pesan) feed back dan umpan balik yang diberikan komunikan terhadap pesan yang diterima.



Shanon dan Weaver merupakan ahli matematika yang mendasarakan perumusan teori komunikasinya pada gelombang radio sebagai media penyampai pesan. Kendati ahli matematika, namun kontribusi Shanon dan Weaver dalam perkembangan komunikasi sebagi “ilmu” memberi dampak besar bagi perkembangan teknologi komunikasi.



Kendati komunikasi awalnya merupakan realitas sosial, namun kontribusi yang diberikan Shanon dan Weaver tersebut sekaligus menjadi bukti empirik bahwa komunikasi memang merupakan sebuah “ilmu” yang dapat disentuh oleh sistem keilmuan lain.



Pertanyaan berikutnya, sejak kapan komunikasi sebagai realitas sosial yang dipahami secara lazim ditetapkan atau dikaji sebagai sebuah ilmu? Jangan terjebak dengan pertanyaan dungu ini. Pertanyaan bodoh tersebut sengaja dicetuskan oleh kelompok tertentu yang iri dengan kemajuan dan besarnya minat mahasiswa menempush studi di ilmu komunikasi.



Sebaliknya, pertanyaan serupa dapat diajukan Sejak kapan kedokteran menjadi sebuah ilmu?, Sejak kapan ekonomi menjadi sebuah ilmu?, Sejak kapan matematika menjadi sebuah ilmu?, Sejak kapan sosial menjadi sebuah ilmu?, Sejak kapan pemerintahan menjadi sebuah ilmu?, Sejak kapan politik menjadi sebuah ilmu?, Sejak kapan seni menjadi sebuah ilmu, Sejak kapan bahasa menjadi sebuah ilmu? Silahkan dijawab.



Ilmu yang tidak berkembang tidak ilmiah. Ilmu akan terus berkembang, bahkan trend keilmuan ke depan bersifat konvergensi-interkoneski. Ilmu ekonomi, dikaitkan dengan pembangunan menjadi Ekonomi Pembangunan atau politik menjadi studi ekonomi politik, Kesehatan yang berakar dari ilmu kedokteran dengan Masyarakat yang berakar dari ilmu sosial menjadi Kesehatan Masyarakat, Agama dikaitkan dengan sosial melahirkan sosiologi agam. Psikologi dikaitkan dengan kesehatan menjadi psikologi klinis.



Rahasia dibalik konvergensi-intekoneksi keilmuan tersebut terletak pada luasnya khazanah keilmuan Allah Swt yang belum terjamah dan tersentuh oleh manusia. Masih banyak keilmuan Allah Swt tersebut yang perlu didekati dan diungkap kebenarannya.



Dalam konteks spirit tersebutlah kemudian Program Studi Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga  tengah berupaya “mendekati” Allah Swt untuk mengungkap sebagian tabir rahasia keilmuan yang dimiliki-Nya. Tabir keilmuan komunikasi yang terintegrasi-interkoneksi antara studi ilmu komunikasi yang berkembang saat ini dengan spritualitas keislaman. Pendekatan tersebut diberi nama dengan “Komunikasi Profetik”.



Istilah Profetik

Spritualitas Komunikasi Profetik

Interkoneksi Teori Kritis-Profetis

Komunikasi Profetik dalam Studi Relasi Budaya-Agama

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Definisi Komunikasi dan Tingkatan Proses Komunikasi


Definisi Komunikasi dan Tingkatan Proses Komunikasi

Kapita Selekta Komunikasi
Kuliah 1
Dosen : Drs. Riswandi, M.Si.

Definisi komunikasi

Kata atau istilah “komunikasi” (Bahasa Inggris “communication”) berasal dari Bahasa Latin “communicatus” yang berarti “berbagi” atau “menjadi milik bersama”.Dengan demikian,  kata komunikasi menurut kamus bahasa mengacu pada suatu upaya yang bertujuan untuk mencapai kebersamaan.Menurut  Webster New Collogiate Dictionary  dijelaskan bahwa komunikasi adalah “suatu proses pertukaran informasi di antara individu melalui sistem lambang-lambang, tanda-tanda atau tingkah laku”.  Berikut ini adalah bebarapa definsi tentang ilmu komunikasi yang dikemukakan oleh para ahli sebagai berikut :Hovland, Janis & Kelley Komunikasi adalah suatu proses melalui mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang-orang lainnya (khalayak.Berelson & Steiner Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan lain-lain melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar, angka-angka, dan lain-lain.

Harold Lasswell Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan “siapa”  “mengatakan “apa”  “dengan saluran apa”, “kepada siapa” , dan “dengan akibat apa”  atau “hasil apa”.(who says what in which channel to whom and with what effect).

Barnlund Komunikasi timbul didorong oleh kebutuhan-kebutuhan untuk mengurangi rasa ketidakpastian, bertindak secara efektif, mempertahankan atau memperkuat ego.

Weaver Komunikasi adalah seluruh prosedur melalui mana pikiran seseorang dapat mempengaruhi pikiran orang lainnya.

Gode Komunikasi adalah suatu proses yang membuat sesuatu dari semula yang dimiliki oleh seseorang (monopoli seseorang) menjadi dimiliki oleh dua orang atau lebih.

Dari berbagai definisi tentang ilmu  komunikasi tersebut di atas, terlihat bahwa para ahli memberikan definisinya sesuai dengan sudut pandangnya dalamelihat komunikasi. Masing-masing memberikan penekanan arti, ruang lingkup, dan konteks yang berbeda.Hal ini menunjukkan bahwa, ilmu komunikasi sebagai bagian dari ilmu sosial adalah suatu ilmu yang bersifat multi-disipliner. Definisi Hovland Cs, memberikan penekanan bahwa tujuan komunikasi adalah mengubah atau membentuk perilaku.Definisi Berelson dan Steiner, menekankan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian, yaitu penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan lain-lain.Definisi Lasswell, secara eksplisit dan kronologis menjelaskan tentang
lima komponen yang terlibat dalam komunikasi, yaitu :-    siapa (pelaku komunikasi pertama yang mempunyai inisiatif atau sumber.-     mengatakan apa ( isi informasi yang disampaikan)

-     kepada siapa (pelaku komunikasi lainnya yang dijadikan sasaran penerima)

-     melalui saluran apa (alat/saluran penyampaian informasi)

-     dengan akibat/hasil apa (hasil yang terjadi –pada diri penerima)

Definisi Lasswell ini juga menunjukkan bahwa komunikasi itu adalah suatu upaya yang disengaja serta mempunyai tujuan. Definisi Gode, memberi penekanan pada proses penularanpemilikan, yaitu dari yang semula (sebelum komunikasi) hanya dimiliki oleh satu orang kemudian setelah komunikasi menjadi dimiliki oleh dua orang atau lebih.Definisi Barnlund, menekankan pada tujuan komunikasi, yaitu untuk mengurangi ketidakpastian, sebagai dasar bertindak efektif, dan untuk mempertahankan atau memperkuat ego.

Berdasarkan definisi-definisi tentang komunikasi tersebut di atas, dapat diperoleh gambaran bahwa komunikasi mempunyai beberapa karakteristik sebagai berikut
Komunikasi adalah suatu proses Komunikasi sebagai suatu proses artinya bahwa komunikasi merupakan serangkaian tindakan atau peristiwa yang terjadi secara berurutan (ada tahapan atau sekuensi) serta berkaitan satu sama lainnya dalam kurun waktu tertentu.

Komunikasi adalah suatu upaya yang disengaja serta mempunyai tujuan. Komunikasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara  sadar, disengaja, serta sesuai dengan tujuan atau keinginan dari pelakunya.

Komunikasi menuntut adanya partisipasi dan kerja sama dari para pelaku yang terlibat kegiatan komunikasi akan berlangsung baik apabila pihak-pihak yang berkomunikasi  (dua orang atau lebih) sama-sama ikut terlibat dan sama-sama mempunyai perhatian yang samaterhadap topik pesan yang disampaikan.

Komunikasi bersifat simbolis Komunikasi pada dasarnya merupakan tindakan yang dilakukan dengan menggunakan lambang-lambang. Lambang yang paling umum digunakan dalam komunikasi antar manusia adalah bahasaverbal dalam bentuk kata-kata, kalimat, angka-angka atau tanda-tanda lainnya.

Komunikasi bersifat transaksional Komunikasi pada dasarnya menuntut dua tindakan, yaitu memberi dan menerima. Dua tindakan tersebut tentunya perlu dilakukan secara seimbang atau porsional.

Komunikasi menembus faktor ruang dan waktu Maksudnya adalah bahwa para peserta atau pelaku yang terlibat dalam komunikasi tidak harus hadir pada waktu serta tempat yang sama. Dengan adanya berbagai produk teknologi komunikasi seperti telepon, internet, faximili, dan lain-lain, faktor ruang dan waktu tidak lagi menjadi masalah dalam berkomunikasi.


Tingkatan Proses Komunikasi

Menurut Denis McQuail, secara umum kegiatan/proses komunikasi dalam masyarakat berlangsung dalam 6 tingkatan sebagai berikut :

Komunikasi intra-pribadi (intrapersonal communication Yakni proses komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang, berupa pengolahan informasi melalui pancaindra dan sistem syaraf.Contoh : berpikir, merenung, menggambar, menulis sesuatu, dll.

Komunikasi antar-pribadi Yakni kegiatan komunikasi yang dilakukan secara langsung antara seseorang dengan orang lainnya.Misalnya percakapan tatap muka, korespondensi, percakapan melalui telepon, dsbnya.

Komunikasi dalam kelompok Yakni kegiatan komunikasi yang berlangsung di antara suatu kelompok. Pada tingkatan ini, setiap individu yang terlibat masing-masing berkomunikasi sesuai dengan peran dan kedudukannya dalam kelompok. Pesan atau informasi yang disampaikan juga menyangkut kepentingan seluruh anggota kelompok, bukan bersifat pribadi.Misalnya, ngobrol-ngobrol antara ayah, ibu, dan anak dalam keluarga, diskusi guru dan murid di kelas tentang topik bahasan, dsbnya.

Komunikasi antar-kelompok/asosiasi Yakni kegiatan komunikasi yang berlangsung antara suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Jumlah pelaku yang terlibat boleh jadi hanya dua atau beberapa orang, tetapi masing-masing membawa peran dan kedudukannya sebagai wakil dari kelompok/asosiasinya masing-masing.

Komunikasi Organisasi Komunikasi organisasi mencakup kegiatan komunikasi dalam suatu organisasi dan komunikasi antar organisasi.Bedanya dengan komunikasi kelompok adalah bahwa sifat organisasi organisasi lebih formal dan lebih mengutamakan prinsip-prinsip efisiensi dalam melakukan kegiatan komunikasinya.

Komunikasi  dengan masyarakat secara luas Pada tingkatan ini kegiatan komunikasi ditujukan kepada masyarakat luas. Bentuk kegiatan komunikasinya dapat dilakukan melalui dua cara :Komunikasi massa Yaitu komunikasi melalui media massa seperti radio, surat kabar,  TV, dsbnya.Langsung atau tanpa melalui media massa Misalnya ceramah, atau pidato di lapangan terbuka.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Selekta Capita Communications


The core of this task is to make a paper about things that could prove that science communication as a multidisciplinary science suati.

 Deadline: 23 September 2006 (the time of this post is past deadline)

Here are the contents of the paper I ...

Methods of research methods in use
in various disciplines

Introduction
Communication is one of the most important and the most complex aspect of human life. Our day to day life is strongly influenced by our communication with others and the messages we receive messages from other people that we do not even know well who have been living and dead, and also the communicator near and far away. Therefore, communication is vital to our lives, so it is fitting that the communication was really get attention.

Expected here, the evidence regarding the nature of communication as a science or a science multidsipliner which includes a variety of other disciplines.Communication itself is part of the social sciences is as it should stand alone.

Communication is a science, because science includes aspects of the structure of an axiology, and ontology epitomologi. Axiology deminsi questioned the utility (avail, the role and usefulness). Epistomologi explain norms of science used to justify himself. While the ontology of the material structure of science.Communication to meet all aspects of a science, therefore communication can stand alone as a science.

Content of the problem
Communication is central to all human experience. It is in realizing the many stakeholders from different disciplines, both from the traditional disciplines (science and literature) as well as social science itself.

Human experience is recorded in a journal and later developed into a theory and become a science. In these notes there is a study, the research could take the scientific method and the method of literature.

The study scientific method
Here the scientists tried to see the world in a way similar to that used by others, they use the same method as that used by others to produce something that the results are identical, this is the need to show some objectivity. Given the similarities in the measurement values ​​are standardized and can prove that the method is valid.
It could be said that this method is related to communication, because some aspects of communication in use;
collection of information which then becomes the source of information, the above can be seen that the scientific scientists using the same method to produce an identical, they collect information to make their research shopped into an objective.
Message, the message they are trying to convey the results of their research, which is then recorded in the journals and disseminated spread.
The results of these studies will give rise to effects, and the essence of communication is to see the effects of an event, and events here is the scientific research process sebauh

Research by the method of literature
If the methods of scientific research is more in focus for the objectivity, the more literary method aims to find creative personality, subjective responses separately to understand the response of each of each individual, therefore the study results with this method is more personal, and look for alternative interpretations. At its base the study by this method was almost the same, but because it comes from two different sides so it looks like can not be fused. Why can diblang same, because they need information and communication.
In research with infrormasi collection methods also exist, there is a recording of the journal, and also at its end to see the effect that caused. All the foundation of communication is here, it shows that communication is terpentih in research methods.

Discussion
Communication involves understanding how people behave in creating a message.Therefore, communication research methods combine scientific and literary.Communication as a social science is very varied from the use of literary elements to the scientific elements. Traditionally the theory of literature on communication theory known as the theory of rhetoric. While understanding the theory of scientific theory is a theory of communication. Such separation should tidah need exists because communication is a multidisciplinary science, communication itself is a method that includes both the literary and the scientific method, the second is the same as in the account in the scientific world of communications.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Review of electronic communications media as a component of Communication Technology


Communication Technology

Lecturer Ir. True Prayudi

Understanding Telecommunications

(Article 1 of Law no. 36 of 99):

Telecommunications is any transmission, emission, or reception of any information in the form of signs, signals, writings, images, sounds, and sound through the wire, optical, radio or other electromagnetic systems

Terminal Subsystem:
Instrument / telecommunication device in the form of electronic media is placed in the position of the beginning / end of a network system that serves to send / receive information
Switching subsystem:
Tool / implement telecommunications equipment that serves the telecommunications connection between the terminal on request
The transmission subsystem:
Tools / telecommunications equipment that serves as a media liaison between the information terminal
Power subsystem:
Tool / device that serves as a provider of telecommunications power source
Terminal Subsystem:
Telephone
Plane Telegraph
Facsimilie
Data terminal
Computer
Studio and Receiver Radio / Television
Cell Phones

Telephone
The phone is the meaning of the voice from a distance
Based on the way to call
Select the Automatic Telephone aircraft wheels (rotary dial) is used in automatic telephone exchange, with wheels that generates digit select
Automatic Telephone Push Button (push button dial) central automaton, with the digit
Based on the Use of Aids:
Public Telephone Box With Coin payphone, method of payment using coins
Public Telephone Cards (TUK) payment by card
Based on the freedom of mobility:
Fix Telephone Line / PSTN (Public Switching Telephone Network) fixed public telephone network / not moving
Cellular Telephone (Cell Phone)
 mobile telephone networks (AMPS, GSM, PCS)

Cell Phones
Commonly called the Mobile. Sejal been introduced in Indonesia in 1979 by PT.INTI (Telecommunications Industry). Network when it was known by Mobile Telephone Connection (STB)
STB technology lasted for half a decade since the Year 1986 Technology Cell Phones into NMT-450 (Nordic Mobile Telephone) is introduced by PT. Rajasa Hazanah Mighty
In 1990, PT. Elektrindo Nusantara started to introduce a service that introduces Technology Cell Phones AMPS (Advanced Mobile Phone System). AMPS is set by the government as telecommunications (Cellular Mobile Telephone System) National.
Analog AMPS systems are widely used in North America, Australia, and Asia.While Europe uses a different cellular NMT-450 for example, NMT-900. Therefore, Europe and build a system with a system GSM (Groupe Spesiale Mobile) in 1982.Was originally designed to operate at 900 MHz
In Indonesia the GSM system was introduced in 1993 as the Global System for Mobile Communication (Global System Mobile Communications) which is also abbreviated to GSM.
GSM system uses digital technology. With the digital system is a single channel can be used by many customers, while the AMPS one channel is used only for one customer.
Currently being tested system PCS (Personal Communication System) to be applied in Indonesia. This system works at a frequency of 1800 MHz and has been used in the United States, Japan, Hongkong, Singapore, and Korea. The Government has not implemented a policy for the application of PCS systems in Indonesia today.

Plane Telegraph
Telegraph can be defined as the process of delivering the news / information in the form of images, or graphics, signs, signals over long distances through the telegraph
Judging from the device used to distribute information telegraph telegraph relations can be divided into two systems:
Morse system
This system was invented by Samuel F.B. Morse (1832).
By using aircraft Morse telegraph transmission of information is done by knocking the signs through word of morse key.
Signs are posted in the form of codes that are a combination of dots and dashes
Example:
a =. __
b = __ ...
ab =. ____ ...

Plane teleprinter
Telegraph systems using the teleprinter is a further development in the field telegraph. The principle is to type a long distance by using the keyboard.
Teleprinter system consists of:
Keyboard, the function writes the message
Transmitter, function sends message
Receiver, serves to receive messages
Printer, serves mencatak message
Control Unit, serves as a central control, such a CPU of a computer

Facsimile plane
Besides the aircraft Telegraph, we know the plane Telephoto. Telephoto means sending pictures from a distance. Telephoto plane now better known as the Aircraft Facsmile. Facsimile is basically a copy machine remotely

Data Terminal plane
The aircraft is part of Terminal Data Processing Engineering Data that is capable of transmitting digital data over communications networks. Communication that occurs frequently we call the Data Communications.
Data Terminal plane could be computers or other hardware
Studio and Receiver Radio / Television
Studio Radio / Television is a terminal that serves mnegirimkan information in the form of sound or images and sounds
Plane Radio / Television is a terminal that serves to receive the information in the form of sound or images and sounds

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Social Exchange Theory


Figures who developed the theory of social exchange, among others, psychologist John Thibaut and Kelley Harlod (1959), sociologist George Homans (1961), Richard Emerson (1962), and Peter Blau (1964). 
 These theories view interpersonal relationships as a commercial transaction.People relate to other people because they expect something that meets their needs. Thibaut and Kelley, the main leaders of this theory is the theory concludes as follows: "The basic assumption underlying all of our analysis is that each individual voluntarily enter and remain in the social relations just as long as the relationship is quite satisfactory in terms of rewards and costs". Based on this theory, we enter into exchange relationships with other people because of him we get in return. In other words, exchange relations with others will result in a reward for us. Social exchange theory was seen between the behavior of the environment there is a relationship of mutual influence (reciprocal). Because our environment is generally made up of other people, then we and others have seen these behaviors influence each other in this relationship there are elements of reward (reward), sacrifice (cost) and profit (profit). Remuneration is anything gained by the sacrifice, the sacrifice is all that inevitable, and profits are reduced by a sacrifice in return. So social behavior consists of the exchange at least between two people based on cost-benefit calculation. For example, patterns of behavior in the workplace, romance, marriage, friendship - that will only be lasting when all parties involved feel teruntungkan. So a person's behavior raised since by his calculations, would be advantageous for him, and vice versa if the behavior is not detrimental to the show.Four Concepts pokokGanjaran, costs, profits, and the comparison of the four basic concepts in this theory. 

Reward is any positive result obtained is considered a person of a relationship.Reward in money, social acceptance or endorsement of the value of the holding. A reward value varies from one to another, and are different from one time to another time. Create a rich social acceptance may be more valuable than money. Make the poor, interpersonal relationships that can overcome its economic difficulties is more rewarding than the relationship that adds to knowledge. 
Cost is considered negative consequences that occur in a relationship. Costs could include time, effort, conflict, anxiety, and collapse of self-esteem and other conditions that can deplete the source of individual wealth or can cause effects that are not pleasant. As a reward, no matter the cost varies according to time and people involved in it. 
Outcome or profit is the reward of reduced costs. If an individual feels, in an interpersonal relationship, that he did not earn a profit at all, he would look for other profitable relationships. For example, you have friends who are stingy and stupid.You helped a lot, but that just does not break up a friendship with him. Your assistance (cost) was greater than the value of friendship (reward) you receive. You lose. According to social exchange theory, your relationships with friends stingy it is easy to crack and was replaced by a new relationship with another person. 
Rate comparison shows the raw size (standard) is used as a criterion in assessing the relationship between the individual at the present time. This default size can be either an individual experiences in the past or other connection alternatives open to him. If in the past, an individual experiencing a satisfying interpersonal relationships, the comparison falls. If a girl had any contact with fellow men in a happy relationship, it will measure the interpersonal relationship with another male friend of his experience with a male friend earlier. The more happy she in previous interpersonal relationships, the higher the level of the comparison, then the more difficult it obtain satisfactory interpersonal relationships. 
 Homans in his "Elementary Forms of Social Behavior, 1974 issued several propositions and one of them reads:" Any action taken by someone, the more often a particular action form get in return, the more likely the person was showing certain actions ". This proposition is explicitly clear that a particular action will be done if there is a return over and over. Another proposition which also reinforces the proposition reads: "The higher the value of a deed for someone, the greater the likelihood the act was repeated again". For Homans, social exchange is the basic principle of "distributive justice" - a rule which says that a reward should be worth the investment. Well-known proposition in relation to this principle states that "a person in exchange relationships with other people will expect a reward received by each party is proportional to the issuance of sacrifice - the sacrifice tingghi, the higher the return - and the benefits received by each party should be proportional to its investment - the higher the investment, the higher the profit ". The essence of social learning theory and social exchange is a person's social behavior can only be explained by something that can be observed, not by the mentalistic (black-box).All theories are influenced by this perspective emphasizes the direct relationship between the observed behavior with the environment. 
ObyektifTeori approach to social exchange in the objective approach. This approach is called "objective" based on the view that objects, behaviors and events exist in a world that can be observed by the senses (sight, hearing, touch, taste, and smell), measurable and predictable. 

Social Exchange Theory assumes people connect with other people because they expect something that meets their needs. In the objective approach tends to regard man as they observe the passive and changes caused by social forces outside themselves. This approach also argue, to a certain degree of human behavior can be predicted, although the forecast is not as precise predictions of natural behavior.In other words, the laws that apply to human behavior is likely (probabilistic). For example, if a student is more studious, they (probably) will get a better value; if we are friendly to others, others (probably) will be gracious unto us; when husband and wife often quarreled, they (may) be divorced. 
Sources: 

Module 4 & Module 6 Theory of Communication Farid Hamid M Si 

Perspectives in Social Psychology Hasan Mustafa 
...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS