Powered by Blogger.
RSS

Tema: Jelas dalam Rumusan Kalimat


DASAR-DASAR PENULISAN NASKAH PUBLIC RELATIONS

Tema: Jelas dalam Rumusan Kalimat

Kalimat harus disiapkan sebagai susunan kata yang mudah dimengerti khalayak pembaca. Namun tidak ada batasan yang pasti tentang rumusan yang dimengerti itu.

Yang dapat disarankan hanyalah, susunlah kata-kata dalam struktur yang memenuhi tuntutan tata bahasa, dan bagian-bagian kalimat tersebut hendaknya dirangkai dalam untaian yang membawa pokok pikiran yang jernih serta logis. Jangan sampai pembaca harus membaca-ulang sebuah kalimat untuk dapat menangkap maknanya dengan jelas. 

Kejernihan susunan itu sangat banyak ditentukan oleh jumlah ide (gagasan) yang disampaikan dalam kalimat. 

1. Jumlah gagasan di dalam kalimat
Harold Evans, editor suratkabar The Sunday Times, London, membedakan kalimat – secara kasar – menjadi empat jenis, yaitu: simple sentence; compound sentence; complex sentence; compound-complex sentence. Untuk bahasa Indonesia, kalimat yang muncul dalam suratkabar dan majalah kita juga dapat dipecah menjadi empat jenis, seperti itu yaitu: kalimat sederhana; kalimat berinduk-beranak; kalimat yang agak rumit; dan kalimat yang rumit.

Untuk membuat kalimat sederhana, batasilah ide yang disampaikan lewat kalimat tersebut. Penulisan kalimat-kalimat pendek akan menghindarkan orang (si penulis) dari perumusan kalimat yang tidak jernih, yang jika dibaca sulit dipahami artinya. Kalimat-kalimat seperti itu selalu mendatangkan kesukaran pada pembaca. Itu berarti menciptakan gangguan dalam komunikasi.

Kalimat sederhana – yang hanya memiliki satu pokok, satu sebutan, atau satu pokok, satu sebutan dan satu keterangan – adalah bentuk yang mudah dipahami. Ia tidak perlu dibaca-ulang untuk memahmi apa yang ia maksud. Berikut ini dapat dilihat perbedaan jumlah ide yang disampaikan lewat empat jenis kalimat.

…..sederhana
Oplet-oplet tua masih beroperasi di Jakarta.
….berinduk-beranak.
Oplet-oplet tua yang dibuat dari mobil bikinan 1950-an, hingga kini masih banyak beroperasi di Jakarta.

…..agak rumit
Oplet-oplet tua yang dibuat dari mobil bikinan tahun-tahun 1950-an, dan ada yang terseok-seok jika lari di jalan, hingga kini, masih banyak beroperasi di Jakarta, dan tetap vital sebagai sarana angkutan.

…..rumit
Oplet-oplet tua yang dibuat dari mobil bikinan tahun-tahun 1950-an, dan malah ada yang terseok-seok jika lari di jalan, hingga kini, walau Jakarta sudah dijuluki kota metropolitas masih memegang peranan penting untuk angkutan dalam kota terutama bagi penduduk dari golongan menangah ke bawah.

Sesungghnya, kalimat panjang yang rumit dapat dipecah menjadi beberapa kalimat pendek. Tetapi harus diingat bahwa ketika memecah satu kalimat yang terlalu panjang menjadi beberapa kalimat pendek, ada dua jebakan yang megnhadang.
Pertama, adalah untuk menyampaikan ide yang sama, kita terpaksa menggunakan kata dalam jumlah yang lebih banyak. Itu berarti terjadi pemborosan kata yang juga harus dihindari dalam jurnalistik. Contoh:

….satu kalimat amat rumit yang terdiri dari 44 kata.
Oplet-oplet tua yang dibuat dari mobil bikinan 1950-an, dan malah ada yang terseok-seok jika lari di jalan, hingga kini, walau Jakarta sudah dijuluki sebagai kota metropolitan, masih memegang peranan penting untuk angkutan dalam kota, terutama bagi penduduk dari golongan menangah ke bawah.

….lima kalimat amat rumit, terdiri dari 57 kata
Oplet-oplet tua yang dibuat dari mobil bikinan 1950-an (1). Ada diantaranya yang bagaikan terseok-seok jika lari di jalan (2). Tetapi hingga kini ia masih banyak beroperasi di Jakarta, padahal Ibukota sudah dijuluki sebagai kota metropolitan (3). Untuk angkutan dalam kota oplet-oplet itu masih memegang peranan penting (4), Ia sangat berarti, terutama bagi penduduk dari golongan menengah ke bawah (5).

2. Kalimat Inversi (Kalimat Terbalik)
Kalimat inversi adalah kalimat yang dalam menyampaikan gagasan terasa kurang lancar. Oleh karena itu hindarilah kalimat inversi. Bentuk pertama adalah inversi dan bentuk kedua tidak inversi.

….Timor Timur situasi keamanannya amat mencemaskan.
….Situasi keamanan Timor Timur amat mencemasakan.

…..Amat mencemaskan situasi keamanan Timor Timur
…..Situasi keamanan Timor Timur amat mencemaskan.

3. Kalimat aktif dan kalimat pasif
Untuk laporan jurnalistik, disarankan agar lebih mengutamakan pemakaian kalimat aktif diabandingkan dengan kalimat pasif. Contoh:
….pasif
Pengurangan produksi trsebut diputuskan manajemen dalam rapat tahunan akhir November yang lalu.

….aktif
Manajemen memutuskan pengurangan produksi tersebut dalam rapat tahunan akhir November yang lalu.

4. Kalimat positif dan kalimat negatif
Jurnalistik juga menyarankan agar sedapat mungkin kita menghindari pemakaian kalimat negatif (kalimat menidakkan), dan mengutamakan kalimat positif (kalimat berita). Contoh:
……negatif
Anggota satpam itu tidak ingat bahwa pintu gudang belum dikunci.

……positif
Anggota satpam itu lupa bahwa pintu gudang belum dikunci. 

5. Hindari irama yang monoton
Jika beberapa kata yang sama bunyinya berada dalam satu kalimat akan timbul gangguan terhadao irana tulisan. Gangguan itu memang tidak mencolok. Akan tetapi kalau gangguan seperti itu ditiadakan, kalimat yang ditulis akan lebih hidup. Contoh:
…..Karena dia memang suka sekali dengan gudeg, kali ini gudeg itulah yang dipesannya untuk makan siang.


Diubah menjadi:
…..Karena dia memang suka sekali dengan gudeg, kali ini makanan khas Yogyakarta itulah yang dipesannya untuk makan siang.

6. Kutipan dan paraphase
Dalam menulis untuk media massa, kita hanya mempergunakan dua macam kalimat. Pertama adalah paraphase yaitu kalimat-kalimat yang isinya ada;lah cerita si penulis sendiri berdasarkan fakta yang dia ketahui. Yang kedua adalah kalimat kutipan, yaitu kalimat yang sebetulnya dinyatakan oleh narasumber atau sumber, dan ditulis ulang oleh sipenulis dengan menyebutkan secara jelas siapa yang menjadi sumber kalimat terebut.
Contoh:
Umpamakan Anda mewawancarai si X dan Tanya-jawab pun berlangsung.
A. Sejak kapan anda mengoleksi radio kuno ini?
X. Sudah delapan tahun yang lalu
A. Jumlah koleksi anda berapa banyak?
X. Semuanya ada 47 radio
A. Yang paling tua?
X. Yang paling tua radio buatan tahun 1938.

Hasil wawancara tersebut kemudian diolah menjadi sebuah cerita. Kira-kira akan menjadi sbb:
Bapak X mulai menjadi kolektor radio kuno delapan tahun lalu. Kini dia memiliki 47 radio tua. “Yang paling tua adalah radio buatan tahun 1938”, katanya dengan suara berat dan aksen Jawa Timur yang kental.

7 Jangan dipakai kata berbunga-bunga.
Kendati dewasa ini dikenal istilah “jurnalistik sastra”. Tidaklah berarti penggunaan bahasa dalam jurnalistik harus seperti pemakaian bahasa untuk novel. Bahasa yang terlalu berbunga-bunga tidak menjadi kebutuhan jurnalistik, apalagi untuk news. Sungguhpun begitu, bahasa yang kaku, arus cerita yang tersendat-sendat dan monoton harus dihindari.
Contoh berikut ini memperliohatkan bagaimana fakta dipakai untuk melukiskan keadaan (deskripsi), dan bagaimana pemilihan kata-kata untuk itu.

…..Satu hektar sawah di Cileban hanya mampu membuahkan delapan kuintal padi yang dipanen sekali dalam setahun dan 12 kuintal jagung untuk dua kali panen. Tahun 1977 yang lalu, 80% padi penduduk digulung wereng. Waktu itu hama sudah terlihat tiga minggu setelah bertanam. Untuk membasminya diperlukan uang Rp. 4.000 per hektar sawah dan warga Cileban yang tak pernah menikmati kredit macam apa pun sama sekali tak memerangi hama itu. Wereng yang sudah tampak pada bibit yang mereka semai tahun ini. Juga tidak disingkirkan. Awal April yang lalu, musim bertanam, bibit itu diangkut ke sawah bersama hamanya. Wereng pun “ditanam” bersama bibitnya…….

8 Jangan sampai ada istilah yang keliru, tidak tepat dan “tidak kena”.
Sering kita temukan di dalam media cetak maupun elektronik penggunaan istilah yang keliru. Boleh jadi itu disebabkan oleh ketidfakpahamaman penulis tentang makna kata yang dipakainya.
Contoh:
….Keluarga Kusnadi bertempat tinggal di Jl. Pecenongan 48, Rabu dinihari sekitar jam 01.00 pagi dibunuh oleh tiga orang lelaki pegawainya sendiri. Dalam peristiwa itu Kusnadi meninggal, sedangkan istrinya dan anaknya selamat….

Istilah “keluarga dibunuh” tidak masuk akal sehat sebab yang mati hanya 1 orang dari keluarga tersebut. Jadi tidak logis. Yang betul adalah “keluarga Kusnadi dianiaya”, Kusnadi tewas sedangkan isteri dan anaknya selamat.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pendekatan Jurnalistik untuk Siaran Pers

DASAR-DASAR PENULISAN NASKAH PUBLIC RELATIONS
Pendekatan Jurnalistik untuk Siaran Pers

Menulis siaran pers dimulai dengan mempertimbangkan nilai berita (news value) kejadian ataupun masalah yang akan disiarkan. Karena siaran pers itu diharapkan dimuat --- paling tidak dikutip --- media massa., tentulah pengukuran news value yang dikenal dalam jurnalistik harus dipahami orang-orang PR/hubungan masyarakat yang membuat press release tersebut.

Cara mengukur nilai berita suatu peristiwa ataupun masalah yang dipakai oleh praktisi PR dan yang dipakai dunia pers, mungkin memang tidak akan pernah dapat disamakan. Tetapi tidak berarti bahwa kedua-duanya tidak dsaling mendekati. Bagaimanapun juga penulisan press release di samping mempertimbangkan kepentingan instituso yang mengeluarkan siaran pers itu, perlu disertai dengan kesadaran akan nilai berita bagi orang banyak dan hak-hak publik akan informasi yang benar, jelas dan jujur. 

Yang diperlukan dalam hal ini adalah adanya kesadaran dan pemahaman yang baik di kalangan petugas PR tentang apa yang disebut sebagai “berita” oleh dunia jurnalistik. Dengan kata lain dapat disebutkan pertugas PR hendaknya dapat memahami cara pandang jurnalistik atau news concept dalam jurnalisme dalam memilih dan menyampaikan laporan untuk publik. Menyiapkan siaran pers dengan cara pandang seperti itu akan membuka peluang bagi keberhasilan upaya public relations.

Memahami Cara Pandang Jurnalistik (News Concept)
Peristiwa dan masalah – Jurnalistik senantiasa memperhatikan dua soal dalam mencari bahan untuk dipublikasikan kepada khalayak luas. Yang pertama adalah peristiwa dan yang kedua adalah masalah. 
Peristiwa adalah kejadian yang melahirkan kenyataan-kenyataan baru melalui proses yang relatif cepat, berlangsung dalam waktu pendek (melahirkan perubahan) dan kemudian selesai. Masalah adalah kenyataan yang tengah dihadapi masyarakat atau lingkungan sosial tertentu, hidup atau senantiasa ada dalam periode yang agak panjang dan dirasakan perlu mendapatkan perubahan (perbaikan) atau harus dipercahkan (diselesaikan). 

Untuk menerangkan segenap peristiwa/masalah kepada publik, jurnalistik (dan tentunya juga siaran pers) mempergunakan fakta yang dapat dibuktikan keberadaan dan kebenarannya. Selain fakta empirik, jurnalistik juga mempergunakan gagasan atau ide yang menyangkut kenyataan yang ada itu sebagai isi laporan.

Penting dan Menarik – Suatu peristiwa maupun masalah akan layak menjadi bahan siaran pers jika peristiwa/masalah itu penting atau menarik bagi khalayak. Peristiwa/masalah itu menjadi penting bagi khalayak jika di dalamnya terdapat (terlibat) kepentingan orang banyak (publik). Suatu peristiwa maupun masalah dikatakan menarik jika peristiwa/masalah itu mengundang perhatian (rasa ingin tahu) orang banyak walaupun di dalam peristiwa/masalah itu sendiri tidak terkandung kepentingan publik. 

Dalam kenyataannya apa yang penting dan menarik bagi khalayak senantiasa berubah dari masa ke masa dan berbeda antara suatu lingkup social dengan lingkup social lainnya. Masalah lingkungan hidup misalnya, setelah adanya kesadaran tentang itu (yang mulai bangkit tahun 1970-an) dan karena kian derasnya proses pengrusakan lingkungan itu sendiri, kian hari kian kuat keududukannya sebagai issue penting di tengah khalayak. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

News Value - Bernilai Berita

DASAR-DASAR PENULISAN NASKAH PUBLIC RELATIONS
News Value - Bernilai Berita

Untuk mempertimbangkan apakah suatu peristiwa/masalah merupakan berita atau bukan (memiliki news value atau tidak) dan untuk mempertimbangkan tinggi rendahnya news value yang terkandung di dalamnya, yang perlu diukur ialah nilai penting dan sifat menarik peristiwa/masalah itu. Nilai “penting” dan menarik ini dapat ditakar dengan beberapa faktor, yang oleh jurnalistik disebut sebagai faktor penentu news value. Adakalanya, dalam sebuah peristiwa/masalah hanya terdapat satu factor penentu. Adakalanya pula beberapa faktor bergabung dalam satu peristiwa/masalah. Faktor-faktor tersebut ialah sbb:
1. Akibat. Tinggi rendahnya nilai penting suatu kejadian/masalah bagi publik dapat ditentukan dengan mempertimbangkan seperti apa, dan dirasakan siapa saja akibat yang ditimbulkan oleh suatu peristiwa atau akibat yang muncul dari suatu masalah. Kian luas publik yang terkena oleh akibat suatu kejadian/masalah. Kian tinggi news value peristiwa/masalah itu, dan kian kuat akibat tersebut dirasakan kian tinggi news value peristiwa/masalah itu. Contoh: Bencana alam Tsunami di Aceh atau Lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur.
2. Jarak. Jarak dapat diterjemahkan dalam pengertian geografis dan jarak dalam pengertian psikologis. Kian pendek jarak --- geografis maupun psikologis --- kian tinggi nilai penting atau menarik berita tersebut.
Terbakar dan ditutupnya perkulakan Goro di Jl. Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dirasakan sebagai kejadian yang nilai beritanya lebih tinggi oleh masyarakat di sekitarnya dibandingkan oleh warga Yogyakarta. Kisah tentang warga keturunan Jawa di Suriname, bagi masyarakat Indonesia (terutama masyarakat Jawa) dirasakan bernilai lebih tinggi dibandingkan dengan yang dirasakan masyarakat Singapura (karena jarak psikologis yang berbeda walau secara geografis jaraknya hampir sama).

3. Prominence. Kejadian/masalah layak jadi berita jika di dalamnya terlibat tokoh terkemuka atau terkenal, benda ataupun tempat yang dikenal orang secara luas. Tokoh, benda ataupun tempat seperti itu selalu popular. Segala sesuatu yang popular selalu menarik bagi publik secara luas dan karena itu pula ikhwal apa pun tentang tokoh, benda ataupun tempat tersebut senantiasa mengundang perhatian orang banyak. Contoh: Peristiwa Bom Bali atau Terbunuhnya DR Azhari (teroris asal Malaysia) di Batu Malang, Jawa Timur.

4. Drama. Kejadian-kejadian yang dramatik memiliki nilai berita karena ia mengandung daya tarik yang cukup tinggi. Boleh jadi suatu peristiwa tidak bersifat penting bagi publik, tetap ia menjadi menarik karena berlangsung secara dramatis. Contoh: Si A seorang pemuda pengangguran, bunuh diri dengan meminum racun serangga di kamarnya di Kemayoran. Si B, juga seorang pemuda pengangguran bunh diri dengan melompat dari lantai delapan sebuah gedung bertingkat di Jakarta Pusat. Kisah si B lebih dramatis daripada kisah si A oleh karena itu kisah si B akan lebih menarik untuk ditulis jadi berita.

5. Konflik. Konflik selalu menarik untuk didengar, diketahui dan dilihat wau untuk sebagian kadang-kadang ia menakutkan. Jika ada tetangga Anda perang mulut dengan tetangga lainnya, Anda pasti tergugah untuk melihat. Karena konflik selalu memiliki daya tarik, peristiwa yang mengandung konflik atau peristiwa yang berupa konflik mengandung news value dan dapat jadi berita. Lebih dari itu, konflik pada suatu ketika tidak hanya sekadar menarik, tetapi dapat mengandung kepentingan publik (misalnya perang, kasus Aceh, atau pun peristiwa kerusuhan di Ambon)

6. Keanehan atau Tidak Sebagaimana Biasa. Keanehan selalu menarik perhatian orang. Karena itulah kejadian atau segala sesuatu yang tidak wajar di sekitar kita layak jadi berita. Misalnya tentang Bayi kembar siam atau pisang berbuah mangga?. 

7. Kebaruan. Peristiwa ataupun masalah yang mengandung sesuatu yang baru (gagasan, penemuan, perkembangan) layak jadi berita. Misalnya, penemuan alat pembangkit listrik hemat bahan bakar.

8. Keselamatan Pribadi atau Nasib Manusia. Manusia senantiasa peduli akan nasib dan peristiwa yang dialami manusia lainnya. Oleh karena itu, manusia selalu memberi perhatian pada nasib dan keselamatan manusia lainnya. Apabila keselamatan itu terancam, manusia lainnya akan terundang untuk mendengar atau mengetahui kisahnya. Keterancaman keselamatan manusia, seringkali tidak lagi sekadar bersifat menarik. Misalnya kasus lumpur panas Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. Ia bahkan sudah menjadi peristiwa/masalah penting. Sebaliknya, nasib baik pun dapat menjadi bahan cerita. Media massa menulis kisah nasib mujur yang dialami seorang juru parkir di sebuah bank yang memenangkan undian – sebuah sedan – untuk para penabung di bank.

Siapapun dan institusi PR/hubungan masyarakat manapun yang ingin memanfaatkan jasa pers sebagai “partner” dalam menyampaikan informasi kepada khalayak sewajarnyalah memahami betul cara pandang jurnalistik sepereti yang dijelaskan diatas. Bertolak dari situ pulalah press conference dapat direncanakan dan diselenggarakan. Dan dari situ pulalah press release dapat disusun dengan baik.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Penulisan Press Release (Siaran Pers)

DASAR-DASAR PENULISAN NASKAH PUBLIC RELATIONS
Penulisan Press Release (Siaran Pers)

Pada suatu saat, ada kebutuhan untuk memberitahu khalayak tentang kejadian atau perkembangan baru, menyangkut institusi tempat kita (public relations) bekerja atau insitusi yang kita wakili kepentingannya (klien). Pada waktu yang lain, mungkin saja ada sesuatu yang baru yang harus diperkenalkan kepada orang banyak, boleh jadi produk baru mungkin pula suatu institusi yang baru dibentuk, peraturan yang baru diberlakukan, atau seseorang yang perlu diperkenalkan kepada publik. Bantuan wartawan dan medianya kerapkali dibutuhkan untuk meluruskan informasi yang tersiar secara resmi tetapi mengandung kekeliruan atau ketidakjelasan. Bahkan besar kemungkinan, bantuan wartawan dan media massa menjadi penting karena ada bantahan yang harus disiarkan setelah di lingkungan khalayak beredar informasi yang tersiar secara resmi namun sama sekali salah, atau membantah serta meluruskan rumor yang mengandung ketidakbenaran. Wartawan dan media massa sering juga “dipergunakan” sekadar untuk membuat agar publik tetap tahu akan keberadaan suatu insitusi, menjaga citra dan kredibilitas.
Jadi, tujuan pembuatan siatan pers adalah sebagai berikut:
· Memberitahu khalayak tentang kejadian atau perkembangan baru
· Memperenalkan sesuatu yang baru kepada orang banyak
· Meluruskan informasi yang tersiar secara resmi tapi mengandung kekeliruan atau ketidakjelasan.
· Membantah atau meluruskan rumor yang mengandung ketidakbenaran
· Membuat agar publik tetap tahu akan keberadaan suatu institusi, atau manjaga citra dan kredibilitas.

Contoh: (Lihat bahan fotocopy dari Soemirat)
Penulisan press release ini menggunakan rumus Piramida Terbalik. Maksudnya bagian yang paling penting diletakkan di bagian awal tulisan. Semakin ke bawah semakin kurang penting isinya yang biasanya merupakan pelengkap berita utama saja..

Siaran Pers
PEMBUKAAN ABN AMBRO BANDUNG (Judul)

1). Paragraf 1: Pembukaan ABN ANBRO Bank (What) di Bandung (Where) dilakukan hari ini (15 Okt) (When) oleh Bapak Karma Swanda ata nama Gubernur Jawa Barat (Who) didampingi Duta Beasr Kerajaan Belanda dan Wakil Presdir ABN AMRO Bank untuk Asia, Australiadan Afrika. Bank telah memberikan perangkat jasa-jasa perusahaan selama hampir satu tahun (Why), sekarang bank melayani perangkat penuh jasa-jasa perorangan dan peruahaan (How).

Catatan: Paragraf pertama ini adalah LEAD (kepala tulisan) dari keseluruhan tulisan. Di dalamnya terkandung 5W + 1 H. 

2). Paragraf 2: ABN MRO Bank adalah salah satu bank. dstnya. . . .

3). Paragraf 3: Gedung bank yang baru di Jalan Jawa dstnya. . . . . . .

Sekian

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PR Writing


Teknik Penulisan Humas (Public Relations Writing) adalah keterampilan menulis (writing skill) khas Humas/PR dalam menghasilkan naskah-naskah yang diperlukan untuk kepentingan pencitraan positif dan popularitas perusahaan/organisasi. Tipe-tipe panulisan atau naskah PR dapat dibagi menjadi dua bagian:

  1. Berkaitan dengan Media Relations/Press Relations, seperti naskah press release (siaran pers), advertorial, dan press conference (press kit/media kit).
  2. Berkaitan dengan media promosi, informasi, dan komunikasi perusahaan/organisasi, seperti naskah untuk dipublikasikan di newsletter, in house magazine/Company Magazines, naskah laporan tahunan (annual report), company profile, leaflet, booklet, brosur, dan sebagainya.

Untuk menghasilkan naskah yang baik (good writing), Humas/PR harus memiliki keterampilan jurnalistik layaknya wartawan, seperti pemahaman tentang nilai berita (news values), bahasa jurnalistik (language of mass communications), kode etik jurnalistik, dan sebagainya.

Untuk kepentingan publikasi yang luas, Humas/PR membutuhkan peran media. Karena itu, diperlukan sebuah hubungan yang baik dengan kalangan pers/media massa (Press/Media Relations). Agar hubungan itu tercipta dengan baik, Humas perlu mengenali dunia pers dengan baik pula, seperti karakteristik wartawan, format media, cara kerja wartawan/media, dan sebagainya.

Siaran Pers

Siaran Pers (Press Release, biasa disebut rilis saja) adalah naskah berita (data atau informasi tentang sebuah kegiatan –pra ataupun pasca) yang disampaikan kepada wartawan atau kantor redaksi media untuk dipublikasikan di media tersebut. Dengan demikian, menulis siaran pers pada dasarnya sama dengan menulis berita seperti dilakukan para wartawan. Oleh karenanya, karakteristik dan struktur penulisan siaran pers sama dengan menulis berita.

Karakteristik siaran pers adalah memiliki “nilai berita” (news values), yakni aktual, faktual, penting, dan menarik. Struktur penulisannya pun sama dengan dengan penulisan berita, yakni terdiri dari head (Judul), dateline (baris tanggal), lead (teras berita), dan news body (tubuh atau isi berita). Berita sendiri artinya adalah laporan peristiwa atau peristiwa yang dilaporkan oleh media massa.

Kiat menulis siaran pers:

  1. Tulis dengan gaya penulisan berita.
  2. Jangan terlalu panjang – cukup satu lembar.
  3. Langsung ke masalahnya dengan segera.
  4. Penuhi unsur berita 5W+1H.
  5. Berikan lebih dari satu nomor kontak –nomor telpon kantor, kontak pribadi, HP, e-mail, dan fax.
  6. Jika memungkinkan, buatlah usulan mengenai orang-orang yang dapat diwawancara.
  7. Cek/konfirmasi siaran pers yang sudah dikirimkan melaui fax, surat, atau e-mail.
  8. Jika perlu, seratakan ilustrasi foto, tabel, atau grafik atau bahan pendukung lainnya –makalah, naskah pidato, susunan acara, dsb.
  9. Tuliskan pada kertas berkop-surat sehingga benar-benar resmi.
  10. Tandatangani oleh pejabat paling berwenang, misalnya manajer humas, ketua panitia, dan/atau ketua lembaga/perusahaan.
  11. Jika bersifat individu, misalnya artis, pakar, pejabat, ataupun warga biasa, sertakan fotokopi identitas.


Surat Pembaca

Surat Pembaca (letter to the editor) mirip siaran pers, terutama dalam hal teknis penulisan dan pengiriman. Yang membedakan adalah dalam hal isi dan tujuannya. Isi dan tujuan surat pembaca biasanya merupakan tanggapan, sanggahan, klarifikasi, atau penggunaan Hak Jawab dan Hak Koreksi atas informasi yang dinilai salah dan merugikan. Surat pembaca berupa tanggapan, biasanya diawali dengan mengutip berita atau surat pembaca yang sebelumnya sudah dimuat, sehingga pembaca dapat mengetahui latar belakang masalah yang diklarifikasi.

Advertorial (adv)

Advertorial = advertising dan editorial. Gabungan antara promosi dan opini atau pemberitaan tentang hal yang dipromosikan –produk, jasa, perusahaan, organisasi, aktivitas, atau program pemerintah. Bentuk tulisannya bisa berupa berita, feature, atau artikel. Advertorial sering disebut iklan dalam bentuk pemberitaan atau tulisan panjang.

Jenis advertorial a.l. adv produk, adv jasa, adv perusahaan, dan adv pemerintahan. Sifatnya bisa informatif, eksplanatif, interpretatif, persuasif, argumentatif, dan eksploratif.

Brosur

Brosur (Brochure) adalah selebaran cetakan satu halaman kertas yang terlipat dua atau lebih, berisi keterangan, informasi, atau gambaran tentang sebuah perusahaan, instansi, produk, atau jasa, atau bisa juga berisi sebuah ide dan kegiatan.

Jenis selebaran promosi sejenis brosur adalah booklet, yakni buku kecil tanpa jilid/cover berisi informasi dan gambar tentang suatu produk atau jasa. Bisa juga terdiri dari beberapa lembar kertas sehingga menyerupai buku. Penyebarannya sama dengan brosur, yakni dibagi-bagikan langsung kepada publik.

Sarana promosi mirip brosur adalah flyer, pamflet, leaflet, atau poser, yakni lembaran utuh tanpa lipatan/tidak terlipat. Pamflet (ukuran satu halaman kertas print), leaflet (ukuran kertas kecil), dan poster (“surat tempelan”, ukuran kertas besar) disebarkan dengan cara ditempel. Flyer biasanya digantung.

Ada juga yang disebut folder. Bentuknya mirip map, namun berisi banyak informasi dan bagian dalamnya terdapat kantung untuk menyimpan aneka berkas seperti surat, brosur, leaflet, kartu nama, dan sebagainya. Folder dapat berfungsi sebagai tempat penyimpan berkas informasi atau promosi.

Press Conference/Media Kit

Konferensi Pers (Press Conference) – undang media untuk menyampaikan informasi, dilakukan tidak rutin, insidental sesuai acara yang digelar, baik sebelum maupun sesudah kegiatan.

Media Kit adalah bahan tertulis sehingga kalangan pers memiliki data akurat dan lengkap sebagai bahan berita. Bahan tertulis ini bisa berupa siaran pers, susunan acara, makalah, artikel, feature, bosur, proposal, atau informasi lengkap tentang kegiatan –tujuan, jadwal, target, kepanitiaan, daftar pengisi acara, dsb.—dan dimasukkan dalam sebuah map atau amplop besar.

Naskah Pidato

Naskah pidato biasanya dilakukan penulis khusus yang disebut scriptwriter. Namun, ada punya petugas humas yang ditugaskan menulisnya. Naskah pidato terdiri dari bagian pembukaan, isi, dan penutup. Ditulis dengan gaya bahasa tutur (spoken words) atau gaya bahasa percakapan (conversational language) karena naskah itu untuk diucapkan, dibacakan, atau disuarakan.

Newsletter

Newsletter secara harfiyah artinya “laporan berkala” atau “surat berita”. Merupakan media informasi dan komunikasi internal sebuah lembaga, biasanya terdiri dari dua hingga delapan lembar kertas kwarto atau folio, tanpa cover seperti majalah atau buku. Isinya bervariasi mirip majalah, misalnya agenda dan berita kegiatan, artikel, feature, gambar, dsb.

Inhouse Magazine

In House Magazine atau Company Magazines adalah majalah internal sebuah lembaga/perusahaan. Desain atau tampilan dan rubrikasinya seperti majalah umum/komersil, namun isinya tentang informasi seputar “dapur” lembaga. Mengelola In House Magazine, juga Newsletter, sama dengan proses manajemen media massa pada umumnya, yakni melalui proses redaksional dan membutuhkan keterampilan meliput dan menulis berita layaknya wartawan.

Proses redaksional dimaksud adalah tahapan perencanaan (planing) –penentuan visi, misi, logo, moto, rubrikasi, editorial policy, dan style book; pengorganisasian (organizing) –penetapan susunan organisasi redaksi (pemred hingga reporter dan layouter); pelaksanaan (acting) –aktivitas jurnalistik seperti perencanaan liputan (rencana isi), peliputan, penulisan, editing, dan desain grafis, dan pengawasan (controling) –pengawasan dan evaluasi proses dan hasil kerja yang sudah dilaksanakan. 


Referensi:

Public Relation Writing: Pendekatan Teoritis dan Ptaktis. Penulis: Dr. Yosal Irianto & A. Yani Surachman, S.Sos. Penerbit Simbiosa Rekatama Media, Bandung, 2006; Press Relation: Kiat Berhubungan dengan Media Massa. Penulis: Drs. Aceng Abdullah. Penerbit Rosdakarya, Bandung, 2000; Jurnalistik Terapan: Panduan Kewartawanan dan Kepenulisan. Penulis: Asep Syamsul M. Romli. Penerbit Baticpress, Bandung, 2004.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tugas Kapita Selekta Komunikasi


Tugas Kapita Selekta Komunikasi

Inti dari tugas ini adalah membuat sebuah makalah mengenai hal hal yang bisa membuktikan bahwa Ilmu komunikasi sebagai suati Ilmu yang bersifat multidisipliner.

 Deadline: 23 September 2006 (Waktu posting ini deadline sudah lewat  )

Berikut isi dari makalah aku…

Metode metode penelitian yang di gunakan
dalam berbagai disiplin ilmu

Pengantar
Komunikasi merupakan suatu hal yang paling penting dan merupakan aspek yang paling kompleks dalam kehidupan manusia. Kehidupan kita sehari hari sangat kuat dipengaruhi oleh komunikasi kita dengan orang lain maupun pesan pesan yang kita terima dari orang lain yang bahkan tidak kita kenal baik yang sudah hidup maupun sudah mati, dan juga komunikator yang dekat maupun jauh jaraknya. Karena itu komunikasi sangat vital untuk kehidupan kita, maka sudah sepatutnya komunikasi mendapat perhatian yang sungguh sungguh.

Disini diharapkan, suatu pembuktian mengenai komunikasi sebagi ilmu yang bersifat multidsipliner atau suatu ilmu yang mencakup berbagai bidang ilmu lain. Komunikasi sendiri merupakan bagian dari ilmu sosial yang memang sudah seharusnya berdiri sendiri.

Komunikasi merupakan ilmu, karena struktur sebuah ilmu meliputi aspek aksiologi, epitomologi dan ontologi. Aksiologi mempertanyakan deminsi utilitas (faedah, peranan dan kegunaan). Epistomologi menjelaskan norma norma yang dipergunakan ilmu pengetahuan untuk membenarkan dirinya sendiri. Sedangkan ontologi mengenai struktur material dari ilmu pengetahuan. Komunikasi memenuhi semua aspek dari sebuah ilmu, oleh karena itu komunikasi bisa berdiri sendiri sebagai sebuah ilmu.

Isi permasalahan
Komunikasi adalah pusat dari seluruh pengalaman manusia. Hal ini di sadari oleh banyak pihak dari berbagai disiplin ilmu, baik dari disiplin ilmu tradisional (ilmiah dan sastra) maupun dari ilmu sosial sendiri.

Pengalaman manusia dicatat dalam sebuah jurnal dan kemudian berkembang menjadi menjadi sebuah teori dan menjadi sebuah ilmu. Dalam mencatat tersebut ada sebuah penelitian, penelitian tersebut bisa mengambil metode ilmiah maupun metode sastra.

Penelitian dengan metode ilmiah
Disini para ilmuan berusaha melihat dunia ini dengan cara yang sama dengan yang di gunakan oleh orang lain, mereka mengunakan metode yang sama dengan yang di gunakan oleh orang lain untuk menghasil kan sesuatu yang hasil yang identik, hal ini di perlukan untuk menunjukan suatu objektifitas. Dengan adanya kesamaan dalam pengukuran nilai maka terdapat standarisasi dan bisa membuktikan bahwa metode tersebut adalah valid.
Bisa dikatakan bahwa metode ini sangat berhubungan dengan komunikasi, karena beberapa aspek dari komunikasi di gunakan;
pengumpulan informasi yang kemudian menjadi sumber informasi, diatas bisa dilihat bahwa ilmuan ilmiah menggunakan metode yang sama untuk menghasilkan suatu yang identik, mereka mengumpukan informasi uantuk menjadikan penelitian mereka menjadi suatu yang objektif.
Pesan, pesan yang mereka berusaha sampaikan adalah hasil dari penelitian mereka, yang kemudian di catat dalam jurnal dan di sebar luaskan.
Hasil dari penelitian tersebut akan menimbulakan efek, dan inti dari komunikasi adalah untuk melihat efek dari sebuah peristiwa, dan peristiwa disini adalah sebauh proses penelitan ilmiah

Penelitian dengan metode sastra
Kalau metode penelitian ilmiah lebih di fokuskan untuk sebuah objektifitas, maka metode sastra lebih bertujuan untuk mencari kepribadian kreatif, utnuk memahami respon respon subjektif tiap tiap pribadi, oleh karena itu hasil penelitian dengan metode ini lebih bersifat pribadi, dan mecari interprestasi alternatif. Pada dasar nya penelitian dengan metode ini nyaris sama, tetapi karena berasal dari dua sisi yang berbeda maka terlihat seperti tidak bisa menyatu. Kenapa bisa diblang sama, karena keduanya membutuhkan informasi dan komunikasi.
Dalam penelitan dengan metode juga ada pengumpulan infrormasi, ada pencatatan jurnal, dan juga pada akhir nya untuk melihat efek yang di timbulkan. Semua dasar dari komunikasi ada disini, hal ini memperlihatkan bahwa komunikasi merupakan hal terpentih dalam metode penelitian.

Pembahasan
Komunikasi meliputi pemahaman tentang bagaimana orang berperilaku dalam menciptakan pesan. Karena itulah, penelitian komunikasi mengkombinasikan metode ilmiah dan sastra. Komunikasi sebagai ilmu sosial memang amat bervariasi dari yang menggunakan unsur unsur ilmiah hingga kesusastraan. Secara tradisional teori teori kesusastraan tentang komunikasi dikenal sebagai teori retorika. Sedangkan pemahaman teori teori ilmiah merupakan teori komunikasi. Pemisahan seperti ini seharusnya tidah perlu ada karena komunikasi merupakan ilmu yang bersifat multidisipliner, komunikasi sendiri sudah mencakup baik itu metode sastra maupun metode ilmiah, kedua nya sama sama di perhitungkan di dunia ilmu pengetahuan tentang komunikasi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tinjauan media-media komunikasi elektronik sebagai komponen Teknologi Komunikasi


Tinjauan media-media komunikasi elektronik sebagai komponen Teknologi Komunikasi

Teknologi Komunikasi

Dosen Ir. Teguh Prayudi

Pengertian Telekomunikasi

(Pasal 1 UU No. 36 Tahun 99) :

Telekomunikasi adalah setiap pemancaran, pengiriman, dan atau penerimaan dari setiap informasi dalam bentuk tanda, isyarat, tulisan, gambar, suara, dan bunyi melalui sistem kawat, optik, radio atau sistem elektromagnetik lainnya

Subsistem Terminal :
Alat/perangkat telekomunikasi yang berupa media elektronik yang ditempatkan pada posisi awal/akhir jaringan sistem yang berfungsi untuk mengirim/menerima informasi
Subsistem Switching :
Alat/perangkat telekomunikasi yang berfungsi melaksanakan penyambungan telekomunikasi antar terminal berdasarkan permintaan
Subsistem Transmisi :
Alat/perangkat telekomunikasi yang berfungsi sebagai media penghubung informasi antar terminal
Subsistem Catu Daya :
Alat/perangkat telekomunikasi yang berfungsi sebagai penyedia sumber listrik
Subsistem Terminal :
Pesawat Telepon
Pesawat Telegrap
Facsimilie
Terminal data
Komputer
Studio dan Penerima Radio/Televisi
Telepon Seluler

Pesawat Telepon
Arti dari Telepon adalah suara dari jarak jauh
Berdasarkan cara melakukan pemanggilan
Pesawat Telepon Otomat Roda Pilih (rotary dial) digunakan pada sentral telepon otomat, dgn roda pilih yang menghasilkan digit
Pesawat Telepon Otomat Tombol Tekan (push button dial) sentral otomat, dgn tombol digit
Berdasarkan Penggunaan Alat Bantu :
Pesawat Telepon Umum Dengan Coin Box telepon umum, cara pembayaran dengan menggunakan uang logam
Pesawat Telepon Umum Kartu (TUK) cara pembayaran dengan kartu
Berdasarkan keleluasaan mobilitas :
Pesawat Telepon Fix Line / PSTN (Public Switching Telepon Network) jaringan telepon umum tetap / tidak bergerak
Pesawat Telepon Seluler (Ponsel)
 jaringan telepon bergerak(AMPS, GSM, PCS)

Telepon Seluler
Biasa disebut dengan Handphone. Di Indonesia sudah diperkenalkan sejal Tahun 1979 oleh PT. INTI (Industri Telekomunikasi). Jaringan saat itu dikenal dengan Sambungan Telepon Bergerak (STB)
Teknologi STB ini hanya bertahan selama setengah dasawarsa karena pada Tahun 1986 masuk Teknologi Telepon Seluler NMT-450 (Nordic Mobile Telepon) yang diperkenalkan Oleh PT. Rajasa Hazanah Perkasa
Tahun 1990, PT. Elektrindo Nusantara mulai memperkenalkan layanan Telepon Seluler yang memperkenalkan Teknologi AMPS (Advanced Mobile Phone System). AMPS ini ditetapkan oleh Pemerintah sebagai STBS ( Sistem Telepon Bergerak Seluler) Nasional.
Sistem Analog AMPS banyak digunakan di Amerika Utara, Australia, dan Asia. Sedangkan Eropa menggunakan STBS yang berlainan misalnya NMT-450, NMT-900. Karena itu Eropa kemudian membangun sistem bersama sebagai sistem GSM (Groupe Spesiale Mobile) tahun 1982. Pada awalnya dirancang untuk bekerja pada frekuensi 900 MHz
Di Indonesia sistem GSM mulai diperkenalkan pada tahun 1993 dengan sebutan Global System for Mobile Communication (Sistem Komunikasi Bergerak Global) yang disingkat juga dengan GSM.
Sistem GSM ini menggunakan teknologi digital. Dengan sistem digital ini satu saluran dapat digunakan oleh banyak pelanggan, sedangkan pada AMPS satu saluran hanya digunakan untuk satu pelanggan.
Saat ini sedang diuji coba sistem PCS (Personal Communication System) untuk diterapkan di Indonesia. Sistem ini bekerja pada frekuensi 1800 MHz dan telah digunakan di Amerika, Jepang, Hongkong, Singapura, dan Korea. Pemerintah belum menerapkan kebijakan untuk aplikasi sistem PCS di Indonesia saat ini.

Pesawat Telegrap
Telegrap dapat diartikan sebagai proses penyampaian berita/ informasi berupa gambar, atau grafik, tanda, isyarat dalam jarak jauh melalui perangkat telegrap
Ditinjau dari perangkat yang digunakan untuk menyalurkan informasi telegrap  hubungan telegrap dapat dibedakan menjadi dua sistem :
Sistem Morse
Sistem ini ditemukan oleh Samuel F.B. Morse (1832).
Dengan memakai Pesawat Morse, pengiriman informasi telegrap dilakukan dengan cara mengetok tanda-tanda melalui kunci ketok morse.
Tanda-tanda yang dikirim berupa kode-kode yang berupa kombinasi titik dan garis
Contoh :
a  =    .  __
b  =    __  …
ab =   .  __  __ …

Pesawat Teleprinter
Sistem Telegrap dengan menggunakan teleprinter ini merupakan pengembangan lebih lanjut di bidang telegrap. Prinsipnya adalah mengetik jarak jauh dengan menggunakan keyboard.
Sistem Teleprinter terdiri dari :
Keyboard, berfungsi menuliskan pesan
Transmitter, berfungsi mengirimkan pesan
Receiver, berfungsi menerima pesan
Printer, berfungsi mencatak pesan
Control Unit, berfungsi sebagai pusat control, semacam CPU sebuah komputer

Pesawat Facsimile
Disamping Pesawat Telegrap, kita mengenal pesawat Telephoto. Telephoto berarti pengiriman gambar dari jarak jauh. Kini pesawat Telephoto lebih dikenal dengan nama Pesawat Facsmile. Pada dasarnya Facsimile adalah sebuah mesin fotocopy jarak jauh

Pesawat Terminal Data
Pesawat Terminal Data adalah bagian dari Mesin Pemroses Data yang mampu mengirimkan data digital melalui jaringan komunikasi. Komunikasi yang terjadi sering kita sebut dengan Komunikasi Data.
Pesawat Terminal Data bisa berupa komputer atau hardware lainnya
Studio dan Penerima Radio/Televisi
Studio Radio/Televisi adalah terminal yang berfungsi mnegirimkan informasi dalam bentuk suara atau gambar dan suara
Pesawat  Radio/Televisi adalah terminal yang berfungsi menerima informasi dalam bentuk suara atau gambar dan suara

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS